
Gambar diatas bukan sebuah poster, bukan pula spanduk besar tentang orang hilang, tetapi hanya sebuah leaflet kecil yang bahkan lebih kecil dari kertas ukuran A4. Gambar tersebut dizoom dengan sangat bagus oleh seorang sahabat dari sebuah warung nasi kuning di tengah kota Singkawang. Berada diantara kalender beraksara cina dan banyak iklan yang tempel menempel di dinding.
Bukan seperti iklan biasa, ‘iklan layanan masyarakat’ ini entah berasal dari kitab apa, entah berasal dari buku apa, entah pula ucapan siapa, tidak jelas pula siapa dan bermaksud untuk apa orang yang menempel iklan semacam itu, yang jelas iklan itu berisi kebajikan dan kearifan relasi anak dan orang tua. Kebajikan dan kearifan untuk selalu mengasihi orang tua kita –dan orang tua-orang tua lain, dengan cara-cara yang layak, sebagaimana apa yang telah kita dapatkan waktu kecil dulu.
Robbigfirli wali wali daya warhamhuma kama robbayani shoghiro
ditulis dalam aksara cina (entah dengan gaya apa) dan bahasa indonesia, iklan itu berisi tulisan seperti dibawah ini:
Disaat daku tua, bukan lagi diriku yang dulu
Maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku
Disaat daku menumpahkan kuah sayuran di bajuku,
Disaat daku tidak lagi mengingat cara mengikatkan tali sepatu,
Ingatlah saat-saat bagaimana daku mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya
Disaat saya dengan pikunnya mengulang terus menerus ucapan yang membosankanmu,
Bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku,
Dimasa kecilmu, daku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah saya ceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi
Disaat saya membutuhkanmu untuk memandikanku,
Janganlah menyalahkanku.
Ingatlah dimasa kecilmu, bagaimana daku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi?
Disaat saya kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern,
Janganlah mentertawaiku.
Renungkanlah bagaimana daku dengan sabarnya menjawab setiap “mengapa” yang kau ajukan disaat itu
Disaat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan,
Ulurkan tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku.
Bagaikan dimasa kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan
Disaat kita melupakan topik pembicaraan kita,
Berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya.
Sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku, asalkan engkau berada di sisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia
Disaat engkau melihat diriku menua, janganlah bersedih
Maklumilah diriku, dukunglah daku, bagaikan daku terhadapmu disaat engkau mulai belajar tentang kehidupan
Dulu daku menuntunmu menapaki jalan kehidupan ini, kini temanilah daku hingga akhir jalan hidupku.
Berilah daku cinta kasih dan kesabaranmu, daku akan menerimanya dengan senyuman penuh sukur.
Didalam senyumku ini, tertanam kasihku yang tak terhingga padamu.



jd Teringat Ortu yg jauh disana,:)
mas, udah jarang bgt ga nulis…
hehehehe
iya dik…. pengen rutin….hadeeeuhhhh